Webmail |  Berita |  Agenda |  Pengumuman |  Artikel |  Video

Janji-Nya selalu TEPAT

22 Juni 2017
02:50:27 WIB

Kejadian 15:1-21

 

Abraham adalah salah satu tokoh dalam Alkitab yang terkenal dengan imannya. Bahkan, ia disebut sebagai bapak orang ber-iman. Ia juga adalah cikal bakal bangsa Israel atau bisa juga dikatakan leluhur dari bangsa Israel sendiri. Abram (sebelum namanya diganti oleh Allah) adalah seorang saudagar di pedesaan ur-kasdim dan kemudian ia ber imigrasi atau pindah ke Palestina (kisah perjanjian Abram dengan Lot) mengenai pilihan tanah masing-masing. Jadi, sangking kayanya Abram dan Lot pada saat itu, mereka pun akhirnya memilih tanah masing-masing untuk menjadi kepunyaan mereka. Namun dalam seluruh kisah Abram sebenarnya ada motif teologis Allah sendiri didalamnya. Yaitu adalah mengenai janji Allah tentang tanah kanaan sendiri. Kanaan dan iman Abram (Abraham) dalam menanggapi hal tersebut. Dalam ayat pembahasan kali ini, (Kej 15:1-21) terbagi dalam 2 pokok pembahasan mengenai janji Allah kepada Abram. Janji Allah bersifat covenant.

A.    (Kejadian 15:1-6) Janji Keturunan

·         (ay 1) Abram Takut

Mengapa dikatakan ia takut? Mungkin Allah berkata “janganlah takut” karena pada saat itu Abram merasa takut terhadap pembalasan dari raja-raja yang baru ia kalahkan (14:15) tetapi yang dapat kita lihat dari perkataan Allah kepadanya adalah bagaimana Allah berjanji akan penyertaan Nya terhadap Abraham. Itu jugalah yang seharusnya kita renungkan sebagai anak Tuhan terlebih sebagai hamba-hamba Tuhan ditempat ini bahwa Tuhan Allah akan tinggal bersama saudara dan saya, melalui saat-saat yang sulit, atau saat-saat dimana kita menghadapi suatu kekhawatiran atau ketakutan dalam hidup kita, ingat satu hal bahwa Allah akan selalu ada bahkan kata “Akulah perisaimu” itu jelas Allah menjanjikan perlindungan bagi setiap umat-Nya.

·         (ay2-3) Eliezer adalah orang Damsyik, hamba yang sangat dipercaya oleh Abram pada saat itu. Kenapa dalam ayat 2 Abram sempat berkata “dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu.” ? ternyata peraturan pada saat itu adalah barangsiapa yang tidak memiliki anak atau keturunan tetapi ia mempunyai seorang hamba, jika ia memiliki harta kekayaan, maka haruslahah harta kekayaan nya itu dilimpahkan kepada hambanya itu. Pantaslah Abram menjadi risih atau tidak enak hati pada saat itu jika seluruh hartanya lantas di wariskan secara Cuma-Cuma kepada orang yang bukan sanak saudaranya bahkan tidak mempunyai hubungan darah apapun (contoh kita…) makanya tema saya tadi janji Allah selallu “tepat”. Kata tepat disini mempunyai makna tersendiri.

Apa itu? Ketika Allah menepati janji Nya, maka disitulah Ia memberikan bukan sekedar apa  yang kita inginkan. Terlebih apa yang kita butuhkan.

Mengapa seperti itu? Lih ayat 2-3 disitu terlihat jelas betapa Abraham menginginkan dan membutuhkan seorang anak untuk meneruskan garis keturunannya.

·         (ay 5) Abram tidak dijanjikan kekayaan atau kemahsyuran karna memang ia sudah memilki semua itu. Tapi yang Allah janjikan adalah sesuatu yang ia butuhkan dan tentunya inginkan. Seperti yang saya katakan tadi.. dan bahkan Allah memberikan sebuah gambaran yang begitu dahsyat.. bagaikan pasir di pantai, dan bintang dilangit.. (coba aja ituung…) padahal mungkin yang diperlukan Abram hanyalah seorang keturunannya. Tapi yang Allah janjikan ya itu tadi.. dan Allah tidak hanya sekedar mengumbar janji manis saja.. tetapi janji Nya kepada Abraham adalah bersifat covenant yang berarti Allah sendiri yang berjanji dan tidak akan pernah janji itu tidak ditepati oleh Allah.. sesuai waktu yang ditentukan oleh Allah. Makanya saya katakana kata “tepat” tadi juga termasuk dalam hal ini. Yaitu ketepatan waktu Allah menggenapi janji Nya disaat Abram putus asa dan seperti hilang perngaharapan, disitulah allah menepati janji Nya. Tidak hanya dengan Abraham, melainkan dengan kita juga.

·         (ay 6) kata percaya disini bukan hanya sekedar sebuah kepercayaan semata. Tetapi Abram menunjukan nya dengan iman dan perbuatan nya kepada Tuhan.

(Kejadian 15:7-21) Janji mengenai Tanah Perjanjian

·         (ay 7) Allah kembali meyakinkan Abram akan kedaulatan dan kemampuan-Nya dan mulai lah pada bagian ini dibahas mengenai tanah perjanjian atau tanah Kanaan itu terhadap bangsa Israel (mendatang)

·         (ay 8) Abram mencari Konfirmasi bahwa dia melakukan kehendak Allah. Dia membutuhkan suatu kepastian ketika ia menuntut. Tetapi kita dapat mengetahui dengan pasti bahwa kita telah melakukan kebenaran. Jadi, ketika kita menuntut atau meminta sesuatu dari Tuhan, kita gabisa menuntut gitu aja.. harus ada yang kita lakukan yang pasti sesuai dengan mau nya Tuhan.. sesuai dgn kehendak Tuhan. Tidak bisa hanya menuntut saja.. istilah kasar nya kita juga tau diri lah jadi manusia. Memang Tuhan tidakm menuntut balasan, karna kasih Allah bersifat cumacuma. TAPI karna Cuma-Cuma itu, jangan malah kita mempermainkan kebaikan atau anugerah Tuhan dalam hidup kita.

·         (ay 9-12) di bahas mengenai peraturan atau sesuatu yang harus dilakukan Abram pada saat itu.

·         (ay 13-16) nubuatan bangsa Israel, tetapi dalam ayat 14 kembali lagi terlihat bagaimana sih penyertaan Tuhan kepada Abram dan keturunannya (bangsa Israel) bahkan dikatakan musuh bangsa Israel (Mesir) akan dihukum Allah. Termasuk orang Amori yang dikatakan dalam ayat 16 adalah orang-orang yang durjana atau jahat. Orang Amori sendiri adalah orang2 yang mendiami tanah Kanaan dimana tanah Kanaan itulah yang akan dibreikan Allah kepada bangsa Israel. Karena pada saat itu Allah sudah mengetahui bahwa orang Amori akan menjadi semakin jahat dan suatu hari harus dihukum. Dan salah satu hukuman  ya adalah perebutan tanah Kanaan bagi bangsa Israel itu.. betapa Allah mengasihi umat-Nya.

·         (ay 17-21) dimana Allah mengadakan perjanjian-Nya dengan Abram ditandai dengan berasap nya daging-daging yang telah dipersembahkan Abram tadi. (ay 18).

B.     Aplikasi

1.      Apasih yang bisa kita contoh dari Abram?

Teladani sikap Abram yang sadar akan siapa dirinya. Istilah kasarnya tadi tau diri. (ay 8) ketika dia mau minta sesuatu dari Tuhan, dia pun bertanya kepada Tuhan apa yang harus ia lakukan yang tentunya menyukakan hati Tuhan.

2.      Percaya sepenuhnya kepada Tuhan, minta apa yang kita butuh bukan yang kita inginkan. Sebenarnya tanpa kita bilang pun Tuhan sudah tau apa yg kita butuh dan inginkan. Tapi, kembali lagi bagaimana kita sebagai manusia yang membutuhkan Tuhan dalam hidup kita, bagaimana kita mau merendahkan diri kita serendah mungkin dan meminta apa yang menjadi kebutuhan kita kepada Tuhan. Tuhan mau liat kerendahan hati dan iman kita kepada-Nya. (Ditulis oleh Audeline Albrevina Paulina, Mahasiswi STT Pelita Bangsa). 

File Terbaru

Facebook Fanpage

TAUTAN EKSTERNAL